pengembaraan perdana si bungsu

Pukul empat pagi. Semua bersiap berkemas, memastikan barang yang ingin di bawa tidak ada yang tertinggal.

"Udah disiapin semuanya belum? Semua udah masuk mobil?" Tanya ayah kepada si bungsu. Tapi dia malah terlihat asyik bermain handphone. Padahal dalam hitungan beberapa menit, ia akan caw pindah kehidupan dan perlu persiapan karena belum mandi dan segala macamnya.

2 jam berselang, akhirnya kami sudah berada di setengah perjalanan. Matahari pagi mulai menyambut dengan perlahan menghantarkan kehangatannya. Di mobil tidak ada percakapan, hanya murotal dan anggukan kepala beberapa penumpang yang tertidur.

Tak lama, kami sampai pada kawasan yang dituju.

Lengang.


"Loh, kita kecepetan ya?"

"Bagus dong, biar gak ramai, lagi covid juga kan kayak begini."

Seseorang datang menghampiri menyapa. Lengkap dengan face shield, masker, seragam guru, dan name tagnya. Ia kemudian mengarahkan untuk kami menaruh barang si bungsu ketempat yang telah disediakan. Si bungsu di sambut dan dipersilakan masuk ke dalam pagar.

"Sampai sini, ayah dan bunda bisa mengantarkan." Sang guru berucao, seraya memberi isyarat bahwa orangtua boleh langsung pulang. "..Nanti hasil swabnya kami infokan segera melalui grup whatsapp. Apabila ananda postif, ananda bisa dijemput lagi untuk kembali ke rumah. Kalau hasilnya negatif, ananda bisa langsung masuk ke dalam asrama."

Kami saling bersitatap. Hoo jadi nganternya cuma sampe sini.

Setelah foto bersama, dadah-dadah, dan berpelukan, kita berpisah (untuk sementara). Gak ada tangisan, padahal ini kali pertama anak yang paling disebut kicik dan bahan untel-untel mulai menggembara.

Teringat beberapa hari yang lalu si bungsu bercerita bahwa mantap tidak berat hati meninggalkan rumah. Itu berarti pikirannya bukan malah melihat ke belakang, tentang kenangan dan momen kebahagiaan yang sudah terjadi kemudian menjadi sedih karena tidak bisa lagi terulang apabila ia benar jadi pergi.

Namun, ia memandang ke depan, membayangkan apa kebaikan yang akan terjadi ketika ia pergi dari sangkar rumahnya. 

InsyaaAllah.. Nanti jumpa lagi ya, dan kita akan punya lebih cerita banyak! Okey dek?

Azka Nada Fatharani

Hanya seorang makhluk mikroskopis yang sedang berkelana mencari makna, mengumpulkan bekal di bumi-Nya. Tulisan di sini adalah ruang katarsis media pengingat untuk penulis pribadi sebenarnya.

Related Posts:

No comments:

Post a Comment