lahh? kaget.
mikirrr.
satu hal yang aku pikirin ketika aku baru bangun dari tidurku: kok anehh..? maksudnya apa?
"bisa gak sih prestasi dimusnahkan aja?"
itu adalah kata-kata yang dilontarkan dari mulut teman asramaku. lucunya, itu terjadi di dalam mimpi.
iya, mimpi. pas lagi tidur.
seorang teman datang, baru pulang dari entahlah kayaknya kuliah lengkap dengan baju rapinya tiba-tiba menghampiriku yang sedang main hape berleha-leha. tiba-tiba dia datang dengan menanyakan hal tersebut, lalu ....
aku terbangun dari tidur.
---- aneh ya?
tapi, padahal, mimpi itu sebenarnya sudah terjadi beberapa minggu yang lalu, dan ternyata hingga saat ini aku masih mengingatnya! bahkan kronologisnya. aku jadi berpikir, hmm kalo sekiranya prestasi beneran musnah trus kenapa dan gimana yak?
tapi, sebenernya, apasih prestasi itu?
disadur dari berbagai sumber, prestasi itu bisa dibilang kayak keberhasilan usaha yang dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman atau mempelajari sesuatu. atau singkatnya.. kayak hasil dari usaha lahya. kalo di KBBI, prestasi itu hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya.
trus kalau dia musnah?? ... ya mana mungkinlah! selama anak cucu adam masih belajar dan berusaha, prestasi akan mengikuti. udah sunnatullah sih itu mah tergantung seberapa usahanya. terus, tergantung cara pandang dari seseorang itu nanti menilainya apakah itu sebagai prestasi yang baik atau yang buruk? hmm.
tapi.. gak berenti sampe di situ sih, yang mau ku ceritain untuk seorang Nada (kamu harus baca ini lagii) di masa depan. hal menariknya tuh baru terjadi kemarin, saat yang tadinya sore hari mau rapat tapi gak jadi karena salah satu teman berhalangan hadir hingga reschedule dan aku memutuskan ikut kajian. ada hal menarik yang qadarullah terjadi dan membuat aku merasa kayak ditampar kanan-kiri dan mendapatkan benang merah ke mimpi yang aku dapet minggu kemarin.
jadi, kajiannya tuh bahas kitab Riyadus Shalihin. trus, yang lagi dibahas tuh tentang niat. sebenernya ini udah seriiing banget dibahas banyak kajian. jadi sebenernya ya..yaudah aja gitu. tapi cuy, ya namanya juga islam yak, sekali dipelajarin gak akan abis tuh bahasannya walaupun yang dibahas materinya sama, ada aja hal yang baruu yang masyaAllah makin diri balik lagi dan makin penasaran buat belajar islam.
nah, ustaznya tuh kurang lebih bilang gini,
"orang yang berada di neraka itu bukan hanya sekelas abu jahal atau abu lahab aja sebenernya. tapi juga banyak dari ahli ilmu, ahli ibadah, semisal orang-orang yang tidak pernah terbayang sebenarnya akan berada di dalam neraka. lalu pertanyaannya, kenapa mereka bisa terjerumus ke dalam neraka?"
jengjeng
"...jawabannya adalah karena mereka tergelincir pada perkara niat dari amal-amal yang mereka lakukan selama di dunia."
..hening, ku jadi berpikir.
cuy, sebegitu penting dan bukanlah hal sederhana perkara niat itu. amal, sekecil apapun, kalau niatnya lurus karena Allah bisa jadi besar. dan juga sebaliknya, amal, sebesar apapun bisa jadi kecil kalo hal itu gak diniatin karena Allah. amal yang dimaksud tentu aja bukan perkara ibadah maghdah aja semisal shalat-ngaji-puasa dan kawan-kawannya. namun amal-amalan umum, yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari hari manusia bumi kayak belajar, mencari ilmu, nyetrika baju (?), ngasih makan orang lapar, masak makanan di rumah, nugas, dan lain-lainn yang tentu saja tida bisa disebutkan satu persatu.
sebegitu pentingnya perkara niat bahkan seorang ulama bilang, "aku tidak pernah mengobati penyakit hati yang lebih berat dari penyakit ikhlas." sepenting itunya perkara niat juga akhirnya banyak kitab-kitab yang ditulis oleh ulama diawali dengan bab niat-- agar penulis dan diharapkan pembaca terhindar dari sifat sum'ah, ingin dipandang, riya, ujub, dan pernak-perniknya. karena hal yang paling bahaya adalah takjubnya seseorang dengan dirinya sendiri yang melupakannya bahwa segala sesuatu yang ia peroleh atas izin dan kehendak dari Allah azza wa jalla.
"sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung dari niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya." HR. Bukhari dan Muslim.
trus kaitannya dengan kajian yang bahas perkara niat dan mimpi apa?
kan di mimpi doi bilang, "bisa gak sih prestasi dimusnahkan aja?"
trus, setelah denger kajian itu, automaticly aku jadi kepikiran apa jangan-jangan mereka ahli ibadah atau ahli ilmu yang terjerumus ke dalam neraka bisa nanya juga gitu juga yak, bisa gak prestasi gue dimusnahkan aja? karena prestasi yang mereka dapati akhirnya malah terlena menjerumuskan mereka jadi berbangga diri dan takjub kepada diri sendiri--hingga mencelakakan mereka untuk berbuat suatu amalan karena ingin dipuji--membangkitkan sum'ah, riya, ujub, sikap ingin dipandang dalam diri dan menjerumuskan diri mereka ke dalam neraka? (karena itu jadi masuk ke bab syirik ngga sih?)
tentu aja jawabanya, prestasi gak bisa dimusnahkan karena selalu mengikuti proses dan usaha yang dilakukan oleh seseorang. tapi tentu saja dengan variabel-variabel lainnya yang emang gak sedikit juga apa yang diharapkan dan diupayakan tidak berjalan sesuai dengan rencana. tapi pertanyaannya jadi untuk masing-masing diri, dari tiap amalan yang dilakukan, kemana muara niatan kita?
trus, ada yang nanya gini: ustaz, boleh gak kita beribadah tapi mengharap pahala? jawaban ustaznya, kalau kata Ali bin Abi Thalib, ada tingkatan seseorang dalam beribadah:
1.Ibadah at-Tujjar: orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu, itu adalah cara ibadahnya pedagang.
2.Ibadah al-‘Abid: orang yang beribadah kepada Allah karena takut, itu cara ibadahnya budak atau hamba sahaya.
3. Ibadah al-Arifin: orang yang beribadah kepada Allah karena rasa syukur, itulah cara ibadahnya orang-orang yang merdeka.
"Jika kita berpikir akan dapat pahala apa atau dapat untung berapa ketika hendak bersedekah, itu artinya kita beribadah dengan cara pedagang, lebih mempertimbangkan untung-rugi. Jika kita baru terpanggil untuk beribadah karena takut masuk neraka, itu berarti kita termasuk kelompok kedua, beribadah cara budak. Ini mirip pengendara sepeda motor yang memakai helm karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan dirinya. Kalau tidak ada polisi, dia tidak memakai helm. Yang ketiga, adalah cara beribadahnya orang-orang yang berjiwa merdeka, tulus karena Allah. Orang seperti ini melaksanakan shalat bukan lantaran takut neraka, tetapi semata-mata karena sadar Allah satu-satunya yang patut disembah. Ibaratnya, ada atau tidak ada polisi, orang seperti ini akan tetap menggunakan helm demi menghindari bahaya. Orang-orang seperti ini akan lebih konsisten dalam beribadah karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang mereka terima dan patut mereka syukuri."
tiga-tiganya tipe kayak gitu tuh di-mention di Al-Quran. tapi kemudian tentu terlihat ada perbedaan dan mana yang lebih next level, kan?
balik lagi ke benang merahnya sama mimpi, bahwa prestasi jelas gak bisa dimusnahkan karena itu adalah akibat dari usaha-usaha yang dilakukan dan itu udah sunnatullah. nah tapii, usaha yang dilakukan untuk mendapatkan prestasi atau sebuah hasil itu kemana muara niatnya? jangan sampe dahh karena niat pada usaha dan prosesnya tidak baik, hingga hasil atau prestasi dari buah usaha tersebut menjerumuskan pemiliknya pada akhir yang sia-sia--sebuah keberhasilan yang fana. apakah prestasi yang dihasilkan nanti malah membuat diri jadi terlena--bangga ujub serta takjub dengan diri sendiri (seperti yang disebutkan sama ustaznya di atas tadi--berakhir di neraka), atau semakin menghamba dan bersyukur taat pada-Nya?
usaha tanpa mendamba hasil sebenernya sulit bangetlah, zuzur karena itu sangat manusiawi. tapi lucunya, udah sunnatullah aja gitu kalo kita usaha, apapun dah niat dibaliknya, pasti nanti membuahkan hasil (yang bisa disebut prestasi). nah itulah tantangannya, gimana caranya biar jadi next level: kita berhasil memaknai tiap proses dari usaha yang kita lakuin, nambahin value untuk niat karena Allah. kalau bisa prestasi atau usaha kita menyelamatkan kita di akhirat (dengan niatin usaha yang kita lakuin untuk nyari ridho Allah), kenapa enggak? Sayang aja gitu kalau kita udah usaha keras nih cape-cape, tapi hasilnya cuman bisa dirasa dan bermanfaat buat kita sebatas di dunia aja yang fana. rugi bandarr
mikirrr.
satu hal yang aku pikirin ketika aku baru bangun dari tidurku: kok anehh..? maksudnya apa?
"bisa gak sih prestasi dimusnahkan aja?"
itu adalah kata-kata yang dilontarkan dari mulut teman asramaku. lucunya, itu terjadi di dalam mimpi.
iya, mimpi. pas lagi tidur.
seorang teman datang, baru pulang dari entahlah kayaknya kuliah lengkap dengan baju rapinya tiba-tiba menghampiriku yang sedang main hape berleha-leha. tiba-tiba dia datang dengan menanyakan hal tersebut, lalu ....
aku terbangun dari tidur.
---- aneh ya?
tapi, padahal, mimpi itu sebenarnya sudah terjadi beberapa minggu yang lalu, dan ternyata hingga saat ini aku masih mengingatnya! bahkan kronologisnya. aku jadi berpikir, hmm kalo sekiranya prestasi beneran musnah trus kenapa dan gimana yak?
tapi, sebenernya, apasih prestasi itu?
disadur dari berbagai sumber, prestasi itu bisa dibilang kayak keberhasilan usaha yang dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman atau mempelajari sesuatu. atau singkatnya.. kayak hasil dari usaha lahya. kalo di KBBI, prestasi itu hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya.
trus kalau dia musnah?? ... ya mana mungkinlah! selama anak cucu adam masih belajar dan berusaha, prestasi akan mengikuti. udah sunnatullah sih itu mah tergantung seberapa usahanya. terus, tergantung cara pandang dari seseorang itu nanti menilainya apakah itu sebagai prestasi yang baik atau yang buruk? hmm.
tapi.. gak berenti sampe di situ sih, yang mau ku ceritain untuk seorang Nada (kamu harus baca ini lagii) di masa depan. hal menariknya tuh baru terjadi kemarin, saat yang tadinya sore hari mau rapat tapi gak jadi karena salah satu teman berhalangan hadir hingga reschedule dan aku memutuskan ikut kajian. ada hal menarik yang qadarullah terjadi dan membuat aku merasa kayak ditampar kanan-kiri dan mendapatkan benang merah ke mimpi yang aku dapet minggu kemarin.
jadi, kajiannya tuh bahas kitab Riyadus Shalihin. trus, yang lagi dibahas tuh tentang niat. sebenernya ini udah seriiing banget dibahas banyak kajian. jadi sebenernya ya..yaudah aja gitu. tapi cuy, ya namanya juga islam yak, sekali dipelajarin gak akan abis tuh bahasannya walaupun yang dibahas materinya sama, ada aja hal yang baruu yang masyaAllah makin diri balik lagi dan makin penasaran buat belajar islam.
nah, ustaznya tuh kurang lebih bilang gini,
"orang yang berada di neraka itu bukan hanya sekelas abu jahal atau abu lahab aja sebenernya. tapi juga banyak dari ahli ilmu, ahli ibadah, semisal orang-orang yang tidak pernah terbayang sebenarnya akan berada di dalam neraka. lalu pertanyaannya, kenapa mereka bisa terjerumus ke dalam neraka?"
jengjeng
"...jawabannya adalah karena mereka tergelincir pada perkara niat dari amal-amal yang mereka lakukan selama di dunia."
..hening, ku jadi berpikir.
cuy, sebegitu penting dan bukanlah hal sederhana perkara niat itu. amal, sekecil apapun, kalau niatnya lurus karena Allah bisa jadi besar. dan juga sebaliknya, amal, sebesar apapun bisa jadi kecil kalo hal itu gak diniatin karena Allah. amal yang dimaksud tentu aja bukan perkara ibadah maghdah aja semisal shalat-ngaji-puasa dan kawan-kawannya. namun amal-amalan umum, yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari hari manusia bumi kayak belajar, mencari ilmu, nyetrika baju (?), ngasih makan orang lapar, masak makanan di rumah, nugas, dan lain-lainn yang tentu saja tida bisa disebutkan satu persatu.
sebegitu pentingnya perkara niat bahkan seorang ulama bilang, "aku tidak pernah mengobati penyakit hati yang lebih berat dari penyakit ikhlas." sepenting itunya perkara niat juga akhirnya banyak kitab-kitab yang ditulis oleh ulama diawali dengan bab niat-- agar penulis dan diharapkan pembaca terhindar dari sifat sum'ah, ingin dipandang, riya, ujub, dan pernak-perniknya. karena hal yang paling bahaya adalah takjubnya seseorang dengan dirinya sendiri yang melupakannya bahwa segala sesuatu yang ia peroleh atas izin dan kehendak dari Allah azza wa jalla.
"sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung dari niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya." HR. Bukhari dan Muslim.
trus kaitannya dengan kajian yang bahas perkara niat dan mimpi apa?
kan di mimpi doi bilang, "bisa gak sih prestasi dimusnahkan aja?"
trus, setelah denger kajian itu, automaticly aku jadi kepikiran apa jangan-jangan mereka ahli ibadah atau ahli ilmu yang terjerumus ke dalam neraka bisa nanya juga gitu juga yak, bisa gak prestasi gue dimusnahkan aja? karena prestasi yang mereka dapati akhirnya malah terlena menjerumuskan mereka jadi berbangga diri dan takjub kepada diri sendiri--hingga mencelakakan mereka untuk berbuat suatu amalan karena ingin dipuji--membangkitkan sum'ah, riya, ujub, sikap ingin dipandang dalam diri dan menjerumuskan diri mereka ke dalam neraka? (karena itu jadi masuk ke bab syirik ngga sih?)
tentu aja jawabanya, prestasi gak bisa dimusnahkan karena selalu mengikuti proses dan usaha yang dilakukan oleh seseorang. tapi tentu saja dengan variabel-variabel lainnya yang emang gak sedikit juga apa yang diharapkan dan diupayakan tidak berjalan sesuai dengan rencana. tapi pertanyaannya jadi untuk masing-masing diri, dari tiap amalan yang dilakukan, kemana muara niatan kita?
trus, ada yang nanya gini: ustaz, boleh gak kita beribadah tapi mengharap pahala? jawaban ustaznya, kalau kata Ali bin Abi Thalib, ada tingkatan seseorang dalam beribadah:
1.Ibadah at-Tujjar: orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu, itu adalah cara ibadahnya pedagang.
2.Ibadah al-‘Abid: orang yang beribadah kepada Allah karena takut, itu cara ibadahnya budak atau hamba sahaya.
3. Ibadah al-Arifin: orang yang beribadah kepada Allah karena rasa syukur, itulah cara ibadahnya orang-orang yang merdeka.
"Jika kita berpikir akan dapat pahala apa atau dapat untung berapa ketika hendak bersedekah, itu artinya kita beribadah dengan cara pedagang, lebih mempertimbangkan untung-rugi. Jika kita baru terpanggil untuk beribadah karena takut masuk neraka, itu berarti kita termasuk kelompok kedua, beribadah cara budak. Ini mirip pengendara sepeda motor yang memakai helm karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan dirinya. Kalau tidak ada polisi, dia tidak memakai helm. Yang ketiga, adalah cara beribadahnya orang-orang yang berjiwa merdeka, tulus karena Allah. Orang seperti ini melaksanakan shalat bukan lantaran takut neraka, tetapi semata-mata karena sadar Allah satu-satunya yang patut disembah. Ibaratnya, ada atau tidak ada polisi, orang seperti ini akan tetap menggunakan helm demi menghindari bahaya. Orang-orang seperti ini akan lebih konsisten dalam beribadah karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang mereka terima dan patut mereka syukuri."
tiga-tiganya tipe kayak gitu tuh di-mention di Al-Quran. tapi kemudian tentu terlihat ada perbedaan dan mana yang lebih next level, kan?
balik lagi ke benang merahnya sama mimpi, bahwa prestasi jelas gak bisa dimusnahkan karena itu adalah akibat dari usaha-usaha yang dilakukan dan itu udah sunnatullah. nah tapii, usaha yang dilakukan untuk mendapatkan prestasi atau sebuah hasil itu kemana muara niatnya? jangan sampe dahh karena niat pada usaha dan prosesnya tidak baik, hingga hasil atau prestasi dari buah usaha tersebut menjerumuskan pemiliknya pada akhir yang sia-sia--sebuah keberhasilan yang fana. apakah prestasi yang dihasilkan nanti malah membuat diri jadi terlena--bangga ujub serta takjub dengan diri sendiri (seperti yang disebutkan sama ustaznya di atas tadi--berakhir di neraka), atau semakin menghamba dan bersyukur taat pada-Nya?
usaha tanpa mendamba hasil sebenernya sulit bangetlah, zuzur karena itu sangat manusiawi. tapi lucunya, udah sunnatullah aja gitu kalo kita usaha, apapun dah niat dibaliknya, pasti nanti membuahkan hasil (yang bisa disebut prestasi). nah itulah tantangannya, gimana caranya biar jadi next level: kita berhasil memaknai tiap proses dari usaha yang kita lakuin, nambahin value untuk niat karena Allah. kalau bisa prestasi atau usaha kita menyelamatkan kita di akhirat (dengan niatin usaha yang kita lakuin untuk nyari ridho Allah), kenapa enggak? Sayang aja gitu kalau kita udah usaha keras nih cape-cape, tapi hasilnya cuman bisa dirasa dan bermanfaat buat kita sebatas di dunia aja yang fana. rugi bandarr
No comments:
Post a Comment