Menyempurnakan Pandangan



"Jangan pernah salahkan teoritikus ketika memiliki teori yang berbeda.." Ujar Pak Budi, dosen matkul Teori Kepribadian Kontemporer dalam kuliah di hari pertama.

"... dalam memandang manusia, Freud menggunakan sudut pandangnya dari ketidaksadaran manusia. Sedangkan Skinner, memandang manusia lewat perilaku yang mereka lakukan. Lantas apabila deskripsi mereka berbeda mengenai manusia, serta-merta salah satu diantara mereka jadi salah?" Pertanyaan retorika, seisi kelas diam menerka perkataan selanjutnya.

"...masing-masing dari mereka tentu punya sudut pandang dan posisi tersendiri dalam melihat sesuatu. Teoritikus pasti memilih ia mengkritisi segala sesuatu dengan pijakannya sendiri. Dan hal tersebut pun yang membuat ilmu pengetahuan menjadi kaya." Lanjut Pak Budi, sambil membenarkan posisi duduknya.

Saya berusaha mencerna setiap kata yang Pak Budi katakan.
Bermain dengan pikiran rasanya menyenangkan.

Iya juga, ya?

Dalam hidup kita memiliki pijakan diri kita masing-masing. Dalam memandang, atau menilai sesuatu. Semuanya. Seperti pada gambar di atas. Orang di sebelah kanan menganggap bahwa objek yang berada di depannya merupakan angka 9. Sedangkan orang yang di sebelah kiri menganggap objek di depannya adalah angka 6.

Tau gak kelanjutan ceritanya kalau kedua orang di gambar tersebut berdebat? wkwkw ya! mereka bakalan debat sampe kiamat! bahkan kiamat bisa jadi lewat.


Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (H.R. Abu Daud)

see?  kenapa sampek akhirnya Rasul menjamin surga bagi mereka yang meninggalkan berdebat walaupun kebenaran ada padanya? karena kadang perselisihan dan kebencian datang hanya dari perbedaan sudut pandang.

Coba deh kalo dua orang di gambar duduk kalem, ngopi-ngopi, menikmati senja, dengerin lagu indie sambil diskusi santuy. pasti mereka akan mendapatkan kesempurnaan pandangan karena menyatukan 2 sudut pandang yang berbeda. Pun kita, sebagai manusia, pada hidup ini. Sudah sepantasnya kita lebih menghargai perbedaan seseorang dalam memandang sesuatu. Terlebih ketika kita mengetahui bahwa kita dibesarkan dari keluarga dan lingkungan yang berbeda. Wah, itu jelas makin bikin kita berbeda dalam memandang sesuatu. Ya tho?

Pun pada akhirnya yang bisa dilakukan selanjutnya, dari keterbatasan cara pandang kita sebagai manusia, kita kembalikan lagi kepada satu-satunya Zat Yang Maha Tahu akan segala sesuatu yaitu Allah. Jarak dan sudut pandang kita sebagai manusia bumi terbatas, sedangkan Allah Yang Maha Menciptakan tentu saja tidak. Ketika kita dihadapkan pada kegundahan dan keabu-abuan akan suaatu kebenaran, minta saja langsung petunjuk kepada-Nya. Itu kan ya, yang kita lakuin sejauh ini seminimalnya 17 kali sehari dalam setiap rakaat dalam shalat kita?


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"tunjukilah kami jalan yang lurus.."
(QS Al-Fatihah : 6)



So, udahlah jangan berdebat. Diskusi santai aja. Bisa dibedakan lah ya, diantara keduanya?

Alhamdulillah, saya kembali diingatkan bahwa masing-masing dari kita punya sudut pandang yang berbeda, dan perbedaan itu yang menyempurnakan. Juga, kita sebagai manusia hanya memiliki pengetahuan yang terbatas, tidak bisa mengetahui semuanya dengan seutuhnya. Maka kembalikan dan mintalah petunjuk kepada Allah. Karena ilmu-Nya mencakup segala sesuatu.

Azka Nada Fatharani

Hanya seorang makhluk mikroskopis yang sedang berkelana mencari makna, mengumpulkan bekal di bumi-Nya. Tulisan di sini adalah ruang katarsis media pengingat untuk penulis pribadi sebenarnya.

Related Posts:

No comments:

Post a Comment