Kisah di Balik Suksesnya Pak Sofyan Djalil




Siapa yang tidak mengenal sosok pak Sofyan Djalil? Beliau merupakan Menteri Negara BUMN Republik Indonesia(2007-2009), Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (2004-2007), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian(2014-2015), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2015-2016), hingga sekarang merupakan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI.

Alhamdulillah, 17 Juli silam, saya dan beberapa teman dari Rumah Kepemimpinan mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahim ke rumah dinas beliau di bilangan Kuningan untuk diskusi santai dan makan malam. Berangkat dari Depok sekitar jam 5, kemudian sampai di sana sekitar jam setengah 7 malam setelah terlebih dahulu shalat maghrib di masjid pinggir jalan.

Sesampainya kami di kediaman beliau, kami langsung diminta untuk ke taman belakang rumah untuk mengambil makanan. Saya memilih untuk mengambil soto bengkong karena terlihat hangat dan menggiurkan. Setelah mengambil makan, kami duduk, bercakap-cakap, dan ramah tamah dengan yang lainnya.

Sekitar pukul 7 malam lebih, diskusi santai pun dimulai. Pak sofyan kemudian duduk di samping Pak Bakhtiar Rahman, salah satu dewan penasihat dari Rumah Kepemimpinan dengan kemeja batik biru dipadu dengan celana bahan hitam dan sendal jepit dalam rumah. Setelah mengucap salam dan pembukaan, beliau membuka kisah perjalanan hidupnya.





Beliau membuka kisah hidupnya dengan bercerita bahwa dulu ia adalah seorang pemuda yang radikal. "Dulu saya pernah ngerakit bom molotov.." ujarnya ringan, matanya menerawang. "...Dulu,  saya buat bom itu untuk menggagalkan sidang MPR. Udah siap, tinggal dinyalahin aja. tapi karena tidak ada aba-aba, ya saya tidak jadi menyalakan bom dan kembali pulang." ujarnya kembali sambil membenarkan posisi duduknya. "haha kalau diingat lucu juga ya.. betapa baiknya Allah masih melindungi saya..."

 "Selain dulu saya radikal, saat masih muda saya benar-benar belajar banyak hal." ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, kemudian lanjut berkisah tentang masa mudanya.

Selain bercerita bahwa dulu ia adalah seseorang yang radikal, beliau juga bercerita tentang kisah mudanya yang penuh perjuangan. Ternyata, ayah beliau adalah tukang cukur, sedangkan ibunya guru ngaji. Beliau saat muda berjuang dengan berjualan telur untuk menambah biaya hidup. Sekolah dasar dan menengah beliau selesaikan di Aceh. Hingga pada tahun 1976, dalam usia 23 tahun beliau berangkat ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan Muktamar Nasional Pelajar Islam indonesia (PII). Sejak saat itu, beliau memilih untuk menetap di Jakarta hingga akhirnya menjadi marbot di salah satu masjid di wilayah Menteng.



"Setelah itu ya saya kemudian serabutan, tidak punya pekerjaan. Tinggal di masjid, kemudian juga pernah saya jadi kenek metromini." katanya lagi dengan ringan.




Pada umurnya yang ke-25, beliau akhirnya diterima dan masuk sebagai mahasiswa di jurusan hukum dengan program ekstensi di Universitas Indonesia. "iya, saat kalian di umur 20-an awal begini kalian sudah kuliah. lahya saya masih serabutan.. bolak-balik naik metromini gratis karena jadi kenek. Baru saya diterima kuliah di umur 25. Ya, tentu semua dari kita sebagai manusia punya garis waktunya masing-masing, tidak perlu dibanding-bandingkan.. ya kan?" ujarnya kemudian disusul tawa. "bahkan, saya baru tahu minus dikali minus itu jadi plus ketika di umur 30! keren banget kalian, kalo dibandingin sama saya.. ahahaha" katanya lagi sambil tertawa renyah. "semoga nanti kalian di masa depan lebih baik dari pada saya yaa, aamiin.." ucapnya menambahkan.




Tiada hari tanpa kuliah dan kerja. Usai bekerja di pagi hari, beliau lanjutkan kuliah di sore hari. Beliau kemudian tamat S1 pada tahun 1983 diusianya yang menginjak kepala tiga. Setelah itu, beliau ikut lembaga kajian, dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk meraih gelar master dan doktor di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat.




"Kalian harus tahu betapa berjuangnya saya dengan bahasa inggris yang paspasan. Bahkan saya berusaha betul untuk memahami apa yang dosen saya katakan. Tidak ada yang mudah, sunguh tidak ada yang mudah semua butuh perjuangan dan tekad yang sekuat baja.."




"..Awal semester saya tidak lulus di satu mata kuliah. Saya mau nyerah aja, tapi kan malu baru pergi udah pulang lagi. muka mau ditaro mana? yasudah saya belajar lebih giat lagi dibanding teman-teman yang lainnya. Saya kumpulkan niat saya lagi karena sudah berjalan sejauh ini. Hingga saya menemukan cara belajar saya, yaitu berputar dan memahami konsep dasar, tidak perlu keturunannya yang begitu rumit."




"..kalian tahu, hingga akhirnya saya lulus dengan predikat terbaik untuk mahasiswa se-Asia?" air mukanya berubah, ada air mata haru di sana.




Berbekal dengan pendidikan yang beliau miliki, pintu kesuksesan mulai terbuka, beliau akhirnya meniti karir menjadi dosen, peneliti, konsultan, hingga menjadi komisaris berbagai perusahaan lokal dan mancanegara. Hingga sampai detik ini, kita telah sama-sama tahu bahwa belaiu pernah menjabat  sebagai menteri sebanyak lima kali.




Pak Sofyan, dengan umurnya yang sudah tidak lagi muda, menceritakan kisah mudanya bak ia masih berada pada masa mudanya. Saya mendengar kisahnya seolah tidak ingin berpaling barang sedikitpun karena semangatnya yang menggebu-gebu dan membawa emosi dalam setiap cerita.




Apabila dirangkum, hal yang beliau sampaikan adalah:


  1. Jangalah terlalu sempit dan bermain hanya dalam satu kolam kecil. berkata sebagai aktivis namun hanya pada kubangan kecil. Saat kuliah jangan dulu tergabung dalam politik. Bangunlah reputasi, jadilah orang yang jujur, karena nanti banyak orang yang akan mencari.
  2. Kita harus bersyukur, di Indonesia siapapun bisa menjadi apapun. Beliau yang tadinya tidak tahu masa depannya seperti apa, mampu merubah nasib dengan berjuang begitu keras. Beliau berpesan, "when there is a will, there is a way. Bernegosiasilah dengan Tuhan tentang masa depan, cita-cita adaah doa."
  3. Ariflah menggunakan sosial media. "sekali ketik dan terpublish, selamanya tulisan kalian akan berada di sana. walaupun sudah dihapus, jejaknya akan abadi. saya bisa melacak dan mengetahui kalian lewat sosial media.." ujarnya sembari mengenang bahwa belaiu pernah menjabat sebagai menteri KOMINFO.
  4. Jagalah Indonesia yang toleran. Indonesia itu beragam, bukan seragam. Janganlah menjadi ekstrim kanan dan ekstrim kiri, jadilah umat muslim yang Allah katakan, yaitu muslim adalah ummatan wasathan, yaitu ummat yang berada di pertengahan. "kalau kalian jadi ekstrim, entah ektrim kanan maupun ekstrim kiri, itu berarti kalian membatasi diri kalian sendiri untuk berpartisipasi di kolam besar. Milikilah kerendahan hati dan sikap yang terbuka."
  5. Jadilah orang yang open mind. " berjanjilah pada diri sendiri bahwa kalian tidak akan menjadi orang yang tertutup, karena sungguh itu akan merugikan kalian."

Dalam menutup diskusi dan cerita perjalanan hidupnya, beliau juga melanjutkan salah satu kisah yang menginspirasi saya. "Ini terjadi ketika saya di Amerika, ketika teman saya akan pindah apartemen. Saat itu saya bekunjung ke apartemennya dan ia sedang mengecat segala penjuru dinding. saya bertanya,



S: untuk apa kau cat semua dinding menjadi seperti baru sedangkan kau akan pindah? dan bahkan kau mengganti saklar dan engsel pintu juga dengan yang baru?

T: Ya, karena saya ingin menciptakan nilai tambah. Saya memiliki visi bahwa dalam setiap hidup saya, saya harus menjadi seseorang yang menciptakan nilai tambah. Bukankah menyenangkan ketika kita membuat orang lain juga senang? kalau begitu kan keberadaan saya jadi lebih berarti



..sejak saat itu, saya pun menggenggam nilai yang sama dengannya. Bahwa setiap keberadaan saya dimana pun, saya harus menciptakan nilai tambah. Bahkan ketika mengatre kamar mandi di dalam pesawat pun , sebisa mungkin kalian berada setelah saya, haha. Karena  akan saya bersihkan bahkan lebih bersih dibanding bekas dibersihkan oleh pramugari." Ujarnya menutup kisah.




Terimakasih Pak Sofyan atas kisah dan ilmunya. Semoga Allah bimbing setiap langkah kita hingga kelak berbuah surga.
















Azka Nada Fatharani

Hanya seorang makhluk mikroskopis yang sedang berkelana mencari makna, mengumpulkan bekal di bumi-Nya. Tulisan di sini adalah ruang katarsis media pengingat untuk penulis pribadi sebenarnya.

Related Posts:

No comments:

Post a Comment